Bukan Desa Biasa : Pulai Payung Siap Taklukkan Sumbagsel, Kibarkan Merah Putih Bengkulu di Panggung Nasional

18 Juni 2026
Administrator
Dibaca 37 Kali
Bukan Desa Biasa : Pulai Payung Siap Taklukkan Sumbagsel, Kibarkan Merah Putih Bengkulu di Panggung Nasional

Mukomuko – Di sebuah desa kecil di ujung utara Provinsi Bengkulu, semangat perubahan itu tumbuh tanpa banyak sorotan. Berawal dari keinginan sederhana untuk menghadirkan pelayanan yang lebih manusiawi, membangun kepercayaan masyarakat, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal, Desa Pulai Payung kini menorehkan prestasi yang membanggakan.

Desa Pulai Payung, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, resmi dipercaya mewakili Provinsi Bengkulu dalam ajang Lomba Desa Tingkat Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Jika berhasil melewati tahapan tersebut, Pulai Payung akan melanjutkan perjuangan ke Lomba Desa Tingkat Nasional, membawa nama Bengkulu di hadapan seluruh Indonesia.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar kompetisi. Namun bagi masyarakat Pulai Payung, ini adalah perjalanan panjang yang dibangun dari kerja keras, keberanian melakukan perubahan, serta keyakinan bahwa desa memiliki kemampuan untuk berdiri sejajar dan menjadi contoh bagi daerah lain.

Tidak ada jalan pintas dalam perjalanan ini. Beberapa tahun lalu, Pulai Payung menghadapi tantangan yang sama seperti banyak desa lainnya. Pelayanan publik yang terbatas, partisipasi masyarakat yang belum optimal, persoalan tata kelola aset, hingga masalah lingkungan yang membutuhkan perhatian serius.

Tetapi desa ini memilih untuk tidak menyalahkan keadaan. Mereka memilih bergerak untuk membuktikan bahwa desa bukan sekadar unit administratif tempat mengurus surat-menyurat. Desa adalah ruang hidup masyarakat yang harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan warganya.

Melalui reformasi birokrasi desa, pelayanan publik dibuat lebih cepat, mudah, transparan, dan bebas pungutan. Pemanfaatan teknologi melalui Sistem Informasi Desa memungkinkan pelayanan semakin efektif. Kanal pengaduan masyarakat dibuka selebar-lebarnya agar setiap suara warga mendapat tempat.

Kepala Desa Pulai Payung, Mustarrudin, SE., N.LP, menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah keberhasilan pemerintah desa semata.

"Ini bukan kemenangan kepala desa, bukan kemenangan perangkat desa. Ini adalah kemenangan seluruh masyarakat Pulai Payung. Prestasi ini lahir dari gotong royong, dari kepercayaan masyarakat, dari kerja keras para kader, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, petani, pedagang, guru, hingga seluruh elemen desa yang tidak pernah lelah berjuang bersama," ujarnya.

Semangat kebersamaan itu juga tercermin melalui berbagai inovasi yang telah dilakukan. BUMDes Pulai Payung Sejahtera hadir sebagai pilar kemandirian desa melalui konsep kewirausahaan sosial. Berawal dari pengelolaan sampah rumah tangga, BUMDes kini melayani lebih dari 500 pelanggan di lima desa dengan omzet ratusan juta rupiah serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, pemberdayaan UMKM lokal terus diperkuat melalui pengembangan produk unggulan seperti Kopi Jenggalu, Keripik Saredo, hingga sabun cuci piring produksi warga.

Di bidang sosial, Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM), Sekolah Lansia, kader desa digital, hingga meningkatnya keterlibatan perempuan dalam pemerintahan desa menjadi bukti bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang memuliakan manusia.

Hasilnya pun nyata. Partisipasi masyarakat meningkat. Lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat. Jumlah anak putus sekolah menurun bahkan mencapai titik nol. Pelayanan kesehatan semakin mudah dijangkau. Perekonomian desa terus tumbuh. Pendapatan Asli Desa meningkat dari tahun ke tahun.

Penghargaan demi penghargaan berhasil diraih, mulai dari predikat Desa Mandiri, penghargaan Anubhawa Sasana Jagaddhita, Peacemaker Justice Award, hingga berbagai apresiasi lainnya.

Kini, Pulai Payung bersiap melangkah lebih jauh. Membawa nama Bengkulu ke tingkat Regional Sumbagsel. Membawa cerita bahwa perubahan bisa dimulai dari desa kecil. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar bangsa ini.

Masyarakat Pulai Payung menyadari, perjalanan ini belum selesai. Tantangan ke depan masih besar. Namun kepercayaan yang diberikan untuk mewakili Provinsi Bengkulu menjadi energi baru untuk terus berbenah dan memberikan yang terbaik.

Jika kelak Pulai Payung berhasil melaju ke tingkat nasional, maka yang dibawa bukan hanya berkas penilaian atau deretan data statistik. Yang dibawa adalah kisah tentang harapan. Kisah tentang masyarakat desa yang percaya bahwa nasib dapat diubah dengan kerja keras dan kejujuran. Kisah tentang seorang ibu yang kini lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan. Tentang anak-anak yang tetap bisa melanjutkan sekolah. Tentang para lansia yang kembali menemukan ruang untuk belajar. Tentang sampah yang disulap menjadi sumber penghidupan. Tentang desa yang menolak menjadi penonton.

Dan dari Pulai Payung, Indonesia kembali diingatkan bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun dari gedung-gedung tinggi di kota-kota besar. Tetapi juga dari desa-desa yang berani bermimpi. Desa-desa yang bekerja dalam diam. Desa-desa yang menjaga harapan tetap menyala.

Hari ini, Pulai Payung melangkah mewakili Bengkulu. Esok, Pulai Payung berharap dapat berdiri di panggung nasional, membawa pesan kepada Indonesia bahwa desa bukan halaman belakang negeri ini. Desa adalah fondasi peradaban, tempat lahirnya harapan, dan wajah bangsa menuju masa depan. (@rowie/180626)